Ketika Theresia masih belasan tahun, hampir setiap malam dia berjuang menyelamatkan diri dari ancaman orang terdekatnya sendiri: sang ayah kandung. Entah pikiran kotor apa yang melintas di otaknya, ayahnya, yang bekerja sebagai tenaga keamanan di sebuah gedung di Jakarta, terus berusaha menjadikan anaknya sendiri sebagai obyek pelampiasan nafsu.
Ayahnya tak berumur panjang. Setelah tak ada ayahnya, Theresia menjadi tulang punggung keluarga bagi adik-adiknya. Theresia, yang baru duduk di bangku SMA, harus bekerja siang-malam supaya dia dan tujuh adiknya bisa hidup di Jakarta. Tapi awan gelap tak mau pergi jauh dari hidup Theresia. Dia hamil di luar kehendaknya. Pelaku pemerkosaan itu adalah pamannya sendiri.
Pamannya yang telah beristri menyuruh Theresia menggugurkan kandungannya tapi dia tolak. Untuk menutupi kehamilan Theresia, ibunya mengungsikan Theresia ke rumah saudara. “Dalam keadaan hamil tua, aku menempuh perjalanan dari Jakarta ke Flores,” Theresia menuliskan kisahnya untuk Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) dalam majalah detik edisi 166.






0 komentar:
Posting Komentar